- Industrialisasi Era 1990 an
Akar intelektual kebijakan industrialisasi yang dikendalikan negara
dimulai pada abad ke-19. Antusiasme terhadap usulan–usulan untuk
industrialisasi selanjutnya melanda Jepang dan dunia Barat, yang
mendorong seorang ahli ekonomi mengatakan bahwa apa yang semula tidak
lebih dari tujuan kebijakan telah berubah menjadi “ideologi independensi
ekonomi”, yang menghendaki “peningkatan posisi negara serta titik berat
pada industrialisasi sebagai wahana bagi integrasi nasional”.
Indonesia, sebagai mata rantai negara berkembang, juga tidak luput
terkena demam industrialisasi tersebut. Semenjak pembangunan ekonomi
dimulai secara terencana sejak tahun 1969, sesungguhnya pendekatan yang
digunakan Indonesia adalah strategi industrialisasi.
Ujung tombak industrialisasi adalah sektor “formal” atau “modern”.
Perusahaan manufaktur “modern” pertama yang dibuka, setidaknya dalam
pengertian dikelola dalam skala besar, adalah industri pertahanan dan
galangan kapal yang dikelola oleh Dutch India Company, VOC, dan
pemerintah kolonial. Namun, teknologi yang digunakan masih berada pada
tahap praindustri dan tergantung hamper seluruhnya pada pengerjaan kayu
dengan alat-alat tangan. Pekerjaan yang menyangkut logam, dipusatkan
pada Gudang Senjata dan percetakan uang pada 1808 di Surabaya.
Mesin uap pertama kali diperkenalkan untuk menjalankan kapal-kapal
laut, baik milik swasta maupun milik angkatan laut. Kapal pertama
bertenaga uap, Van der Capellen berlabuh di Surabaya 1825 untuk melayani
perjalanan pantai utara Jawa. Kapal-kapal angkatan laut pertama yang
bertenaga uap tiba di Hindia Belanda pada 1838 untuk dipakai patroli
anti bajak laut.
Pada 1849, pemerintah mengambil alih ketel uap yang digadaikan dan took mesin Heer Baijer di Surabaya. Pada 1851, took konstruksi tersebut diubah fungsinya menjadi gudang senjata militer khusus dan ketel uap dan toko mesin menjadi bagian inti dari pabrik angkatan laut khusus. Pada 1859, Cores de Vries mendirikan galangan kapal di Surabaya tempat peleburan dan ketel uap pada 1863. perusahaan Pelayaran Uap Hindia Belanda pada 1872 membuka sebuah pabrik perbaikan kapal di Surabaya yang kemudian diambil alih oleh perusahaan perwakila Inggris Fraser, Eaton & Co.
Pada 1849, pemerintah mengambil alih ketel uap yang digadaikan dan took mesin Heer Baijer di Surabaya. Pada 1851, took konstruksi tersebut diubah fungsinya menjadi gudang senjata militer khusus dan ketel uap dan toko mesin menjadi bagian inti dari pabrik angkatan laut khusus. Pada 1859, Cores de Vries mendirikan galangan kapal di Surabaya tempat peleburan dan ketel uap pada 1863. perusahaan Pelayaran Uap Hindia Belanda pada 1872 membuka sebuah pabrik perbaikan kapal di Surabaya yang kemudian diambil alih oleh perusahaan perwakila Inggris Fraser, Eaton & Co.
Namun, sektor yang menonjol awal itu adalah industri gula untuk pasar
internasional. Meskipun hingga 1830-an, pabrik-pabriknya masih
tergolong kecil dan bertenaga hewan ternak yang menggunakan batu gerinda
dan bangunannya terutama terbuat dari kayu. Pembukaan lahan berdasarkan
UU Pertanahan tahun 1870 mengakibatkan modernisasi yang pesat pada
pabrik-pabrik gula, segera membuat pabrik-pabrik pengguna tenaga hewan
dan tenaga air yang lam terpinggirkan. Jumlah ketel uap yang digunakan
industri gula meningkay dari 342 unit pada 1871 menjadi sekita 1.000
unit pada 1881, dan mencapai puncaknya dengan jumlah sekitar 1.350 unit
menjelang Perang Dunia I hinnga depresi 1930-an. Dari awal 1880-an
hingga 1930, jumlah pabrik gula tetap tidak berubah, yakni sekitar 200
unit.
Dari seluruh jumlah ketel uap yang digunakan perusahaan-perusahaan
manufaktur swasta pada 1900, pabrik gula menyumbangkan 90%. Semua bentuk
manufaktur lain (pengambilan minyak, nila, dan perkebunan kopi) hanya
menyumbang tidak lebih dari 6% dari kapasitas ketel uap. Ini menunjukkan
betapa terbatasnya pembangunan industri Indonesia zaman kolonial pada
saat itu. Situasi tersebut diperkuat dengan distribusi kapasitas mesin
oleh tenaga kuda, di mana banyak pabrik menggunakan tenaga uap dalam
jumlah minim, masing-masing hanya menggunakan satu tenaga kuda.
Indusri minyak memulai produksinya di Jawa pada 1887. tenaga uap
digunakan baik untuk pengambila maupun pemrosesan minyak mentah menjadi
minyak tanah. Lahan-lahan pertama berada di sebelah selatan Surabaya, di
mana dibuka penyulingan pada 1889 ditambah dengan sebuah pabrik untuk
memproses residu menjadi lilin paraffin, dan di daerah pedesaan Blora
pada 1894. Merupakan bagian kompleksitas ini adalah sebuah pabrik untuk
memproduksi kaleng-kaleng timah tempat minyak tanah sebelum
didistribusikan.
Meskipun ketel uap, vacuum pans, centrifuge,dan mesin-mesin uap
diimpor, terutam dari Inggris, pemeliharaan dan perbaikannya terpaksa
dilakukan secara lokal. Sebuah pabrik terpaksa menghentikan kegiatannya
selama satu musim, sementara sebuah perlengkapan atau suku cadang baru
dipesan atau dikapalkan ke koloni, memaksa parik tersebut menyediakan
ahli teknik secara mendadak.
Sementara industri gula menimbulkan permintaan langsung produk
industri kerja logam, juga ada permintaan penting secara tidak langsung.
Pertama, ada permintaan pembuatan pintu air dan pintu gerbang yang
terbuat dari logam dan gambar teknik mesin untuk pekerjaan-pekerjaan
irigasi. Pekerjaan pembuatan rel kereta pertama pada zaman kolonial di
Indonesia diberikan pada 1863 dan 1864.
Industrialisasi Indonesia di zaman kolonial pada awalnya didorong oleh kebutuhan untuk memproses produk-produk primer untuk pasar dunia dan pasar domestik di negara ini. Permintaan terutama dari penduduk Eropa yang mengharapkan suatu kehidupan perkotaan yang nyaman. Sehingga melahirkan tuntutan terhadap bahan bangunan, terutama batu bata, genting, dan kapur yang diproduksi di luar kota dan jumlahnya meningkat bersamaan dengan penerapan tenaga uap.
Industrialisasi Indonesia di zaman kolonial pada awalnya didorong oleh kebutuhan untuk memproses produk-produk primer untuk pasar dunia dan pasar domestik di negara ini. Permintaan terutama dari penduduk Eropa yang mengharapkan suatu kehidupan perkotaan yang nyaman. Sehingga melahirkan tuntutan terhadap bahan bangunan, terutama batu bata, genting, dan kapur yang diproduksi di luar kota dan jumlahnya meningkat bersamaan dengan penerapan tenaga uap.
Permintaan selanjutnya adalah akan es dan air mineral. Pabrik es
dibuka di Batavia pada 1863 dan di Surabaya pada 1866. Toko-toko roti
umumnya dibuka oleh industri rumah tangga yang membutuhkan tungku kayu,
sedangkan tenaga uap digunakan untuk pembuatan tepung. Laundry dengan
tenaga uap didirikan di kota-kota pelabuhan, tetapi pembuatan sabun
tetap merupakan kegiatan yang menggunakan keterampilan tangan. Di
kota-kota utama, meningkatnya jumlah penduduk Eropa mengakibatkan
meningkatnya permintaan akan koran, majalah lokal dan buku yang didukung
oleh industri percetakan dan penerbitan yang juga meningkat.
Sebaliknya, di berbagai pulau luar Jawa pabrik-pabrik manufaktur
modern tetap sedikit hingga akhir 1900. Ini disebabkan oleh penggabungan
dari sebagian besar daerah ini ke dalam orbit kolonial. Meskipun
beberapa pabrik didirikan Belanda di kota-kota pantai.
- Industrialisasi Masa Orde Lama
Pada awal kemerdekaan, pembangunan ekonomi Indonesia mengarah
perubahan struktur ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional, yang
bertujuan untuk memajukan industri kecil untuk memproduksi barang
pengganti impor yang pada akhirnya diharapkan mengurangi tingkat
ketergantungan luar negri.
Sistem moneter tentang perbankan khususnya bank sentral masih
berjalan seperti wajarnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya hak ekslusif
untuk mencetak uang dan memegang tanggung jawab perbankan untuk
memelihara stabilitas nasional. Bank Indonesia mampu menjaga tingkat
kebebasan dari pengambilan keputusan politik.
Masa orde lama dimulai dari tanggal 17 Agustus 1945 saat Indonesia
merdeka. Pada saat itu,keadaan ekonomi Indonesia mengalami stagflasi
(artinya stagnasi produksi atau kegiatan produksi terhenti pada tingkat
inflasi yang tinggi). Indonesia pernah mengalami sistem politik yang
demokratis yakni pada periode 1949 sampai 1956. Pada tahun tersebut,
terjadi konflik politik yang berkepanjangan dimana rata-rata umur
kabinet hanya dua tahun sehingga pemerintah yang berkuasa tidak fokus
memikirkan masalah-masalah sosial dan ekonomi yangterjadi pada saat itu.
Selama periode 1950an struktur ekonomi Indonesia masih
peninggalan jaman kolonial, struktur ini disebut dual society dimana
struktur dualisme menerapkandiskriminasi dalam setiap kebijakannya baik
yang langsung maupun tidak langsung.Keadaan ekonomi Indonesia menjadi
bertambah buruk dibandingkan pada masa penjajahanBelanda.
Sejak tahun 1955, pembangunan ekonomi mulai meramba ke proyek-proyek
besar. Hal ini dikuatkan dengan keluarnya kebijakan Rencana Pembangunan
Semesta Delapan Tahun (1961). Kebijakan ini berisi rencana pendirian
proyek-proyek besar dan beberapa proyek kecil untuk mendukung proyek
besar tersebut. Rencana ini mencakup sektor-sektor penting dan
menggunakan perhitungan modern. Namun sayangnya Rencana Pembangunan
Semesta Delapan Tahun ini tidak berjalan atau dapat dikatakan gagal
karena beberapa sebab seperti adanya kekurangan devisa untuk menyuplai
modal serta kurangnya tenaga ahli.
Perekonomian Indonesia pada masa ini mengalami penurunan atau
memburuk. Terjadinya pengeluaran besar-besaran yang bukan ditujukan
untuk pembangunan dan pertumnbuhan ekonomi melainkan berupa pengeluaran
militer untuk biaya konfrontasi Irian Barat, Impor beras, proyek
mercusuar, dan dana bebas (dana revolusi) untuk membalas jasa
teman-teman dekat dari rezim yang berkuasa. Perekonomian juga diperparah
dengan terjadinya hiperinflasi yang mencapai 650%. Selain itu Indonesia
mulai dikucilkan dalam pergaulan internasional dan mulai dekat dengan
negara-negara komunis.
- Industrialisasi Masa Orde Baru
Inflasi pada tahun 1966 mencapai 650%,dan defisit APBN lebih besar
daripada seluruh jumlah penerimaannya. Neraca pembayaran dengan luar
negeri mengalami defisit yang besar, nilai tukar rupiah tidak stabil”
(Gilarso, 1986:221) merupakan gambaran singkat betapa hancurnya
perekonomian kala itu yang harus dibangun lagi oleh masa orde baru atau
juga bisa dikatakan sebagi titik balik.
Awal masa orde baru menerima beban berat dari buruknya perekonomian
orde lama. Tahun 1966-1968 merupakan tahun untuk rehabilitasi ekonomi.
Pemerintah orde baru berusaha keras untuk menurunkan inflasi dan
menstabilkan harga. Dengan dikendalikannya inflasi, stabilitas politik
tercapai ayng berpengaruh terhadap bantuan luar negeri yang mulai
terjamin dengan adanya IGGI. Maka sejak tahun 1969, Indonesia dapat
memulai membentuk rancangan pembangunan yang disebut Rencana Pembangunan
Lima Tahun (REPELITA). Berikut penjelasan singkat tentang beberapa
REPELITA
- REPELITA I (1967-1974)
mulai berlaku sejak tanggal 1april 1969. Tujuan yang ingin dicapai
adalah pertumbuhan ekonomi 5% per tahun dengan sasaran yang diutamakan
adalah cukup pangan, cukup sandang, perbaikan prasarana terutama untuk
menunjang pertanian. Tentunya akan diikuti oleh adanya perluasan
lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
- REPALITA II (1974-1979)
Target pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 7,5% per tahun. Prioritas
utamanya adalah sektor pertanian yang merupakan dasar untuk memenuhi
kebutuhan pangan dalam negeri dan merupakan dasar tumbuhnya industri
yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
- REPALITA III (1979-1984)
Prioritas tetaap pada pembangunan ekonomi yang dititikberatkan pada
sector pertanian menuju swasembada pangan, serta peningkatan industri
yang mengolah bahan baku menjadi bahan jadi.
- REPALITA IV (1984-1989)
Adalah peningkatan dari REPELITA III. Peningkatan usaha-usaha untuk
memperbaiki kesejahteraan rakyat, mendorong pembagian pendapatan yang
lebih adil dan merata, memperluas kesempatan kerja. Priorotasnya untuk
melanjutkan usaha memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan
industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. Jika
ditarik kesimpulan maka pembangunan ekonomi menurut REPELITA adalah
mengacu pada sektor pertanian menuju swasembada pangan yang diikuti
pertumbuhan industri bertahap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar